Senin, 22 April 2013

Eksperimen


PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH

A.    Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, yaitu manusia Indonesia yang beriman, mandiri, maju, cerdas, kreatif, terampil, bertanggung jawab serta produktif. Berbagai upaya pendidikan telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan kajian-kajian dan pengembangan kurikulum di Indonesia secara bertahap, konsisten, dan disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman.
Belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Seperti yang dikemukakan Moh. Surya (1997) :
“Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Manusia tanpa belajar akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tidak lain juga merupakan produk kegiatan berpikir manusia pendahulunya.
Dalam pencapaian tujuan pendidikan, telah berusaha dan bekerja keras melakukan pembinaan dan pengembangan pendidikan demi meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dan meningkatkan profesional guru baik perbaikan lembaga pendidikan, penataran guru maupun sertifikasi guru.
Salah satu upaya dalam meningkatkan prestasi belajar adalah dengan meningkatkan kemampuan para guru, khususnya dalam menyampaikan materi sejarah dan cara mengajar yang baik karena Subriyanto (1988 : 30) menyatakan bahwa :
"Cara mengajar yang baik merupakan kunci dan persyaratan  bagi peserta didik untuk dapat belajar dengan baik".

Cara mengajar yang dimaksudkan disini adalah metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan kondisi dan kesiapan mental peserta didik sehingga dapat meningkatkan minat belajar anak didik. Hal ini sesuai dengan Simanjuntak (1993:65) menyatakan bahwa :
"Para pendidik harus berusaha untuk memelihara dan mampu mengembangkan minat dan kesiapan anak didik".

Guru juga harus siap dan mau berusaha untuk menangani ketidakmampuan atau kelemahan siswa dalam mempelajari sejarah dengan meninjau sistem pendidikan sejarah dan kurikulum.
Berdasarkan pengamatan penulis, kenyataannya masih banyak guru yang menggunakan metode yang tidak sesuai dengan materi pelajaran dan tidak sesuai dengan kondisi dan kesiapan mental peserta didik. Guru sangat tergantung pada metode yang biasa digunakan yang dianggap benar dan objektif serta enggan dalam mengubah metode tersebut.
Selain itu pembelajaran berpusat atau berorintasi kepada guru (teacher centered approach), dimana pelajaran disampaikan secara verbal, guru sebagai satu-satunya sumber dan pusat informasi. Sedangkan, peserta didik kurang siap menerima pelajaran, sehingga apa yang dikuasai peserta didik pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru dan hanya mencatat fakta-fakta kering yang dibaca guru. Minat peserta didik kurang pelajaran sejarah dan sering terjadi, secara fisik peserta didik ada didalam kelas namun secara mental peserta didik sama sekali tidak mengikuti  jalannya proses pembelajaran. Kondisi ini belum dapat menumbuhkan hubungan atau kerja sama antar peserta didik dalam kelas sehingga guru yang lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran sejarah. Dimana hasil belajar mata pelajaran sejarah peserta didik pada saat ini masih dibawah standar, yaitu:
Tabel 1 : Daftar nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran sejarah tahun pelajaran 2010/2011.
Kelas
Nilai rata-rata ulangan harian
VII1
50
VII2
48
VII3
40

Menurut I Gde Widja (1998:1) :
“Dalam praktek mengajar sejarah guru hanya membeberkan fakta-fakta kering berupa urutan tahun dan peristiwa belaka. Pelajaran sejarah dirasakan peserta didik hanya mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi dimana teknik mengajarnya itu-itu saja. Guru memulai pelajaran dengan bercerita, membaca apa yang tertulis dalam buku pelajaran sampai bel akhir pelajarannya berbunyi”.

Salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mengajar guru adalah pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang didalamnya memberikan kesempatan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah sejarah dengan mengkombinasikan pengalaman dan kemampuan antar personal (kelompok) sehingga diperoleh suatu kesepakatan yang merupakan penyelesaian dari permasalahan tersebut.
Melalui model pembelajaran Group Investigation diharapkan mampu meningkatkan kemampuan procedural fluency siswa sehingga siswa merasa nyaman dan senang saat mengikuti pembelajaran sejarah dan dapat lebih mudah memahami konsep-konsepnya.
Dengan melihat latar belakang masalah tersebut peneliti terdorong untuk meneliti masalah tersebut dengan mengambil judul Pengaruh Pembelajaran Kooperatif model Group Investigatian (GI) dalam Upaya meningkatkan  Hasil Belajar Sejarah.

B.     Batasan dan Perumusan Masalah
1.    Batasan Masalah
Pembatasan masalah diperlukan supaya penelitian ini lebih efektif, efisien dan terarah. Adapun hal-hal yang membatasi penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.    Kemampuan procedural fluency adalah sanggup melakukan suatu tahap kegiatan untuk menyelesaikan langkah demi langkah dengan lancar dan pasti dalam memecahkan masalah yang meliputi aspek:
o   Terlibat dalam mengemukakan pendapat,
o   Menanggapi atau mengajukan pertanyaan,
o   Mengerti dan dapat melakukan langkah GI,
o   Mendefinisikan konsep,
o   Mengeksplorasi konsep,
o   Mengaplikasikan konsep,
o   Menjalin kerjasama dalam kelompok.
b.      Hasil belajar
Hasil belajar sejarah yang akan diteliti adalah hasil belajar sejarah siswa semester genap (2) tahun ajaran 2010/2011.

2.    Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah maka permasalahan penelitian ini adalah :
a.       Apakah ada peningkatan kemampuan procedural fluency siswa pada pembelajaran sejarah melalui Pembelajaran Kooperatif model Group Investigatian?
b.      Adakah peningkatan prestasi belajar sejarah dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation?

C.    Tujuan Penelitian
Sejalan dengan permasalahan diatas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1.      Meningkatkan kemampuan procedural fluency (kelancaran dalam menyelesaikan langkah demi langkah) terhadap sejarah melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation.
2.      Meningkatkan prestasi belajar sejarah dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat secara teoritik:
Secara teoritis dapat memberikan sumbangan terhadap pembelajaran sejarah, utamanya untuk meningkatkan prestasi belajar Sejarah dan meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan pembelajaran kooperatif model GI.
Manfaat Secara Praktis:
a.       Memberikan bahan pertimbangan bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan proses pembelajaran yang bervariasi.
b.      Bagi siswa agar memahami konsep-konsep dalam belajar sejarah dangan menerapkan kedalam situasi dunia nyata, sehingga belajar sejarah lebih bermakna supaya memunculkan kemampuan procedural fluency untuk mengembangkan daya pikir dan tumbuh kompetisi siswa.
c.       Bagi peneliti merupakan wahana uji kemampuan terhadap bekal teori yang diperoleh dibangku kuliah, serta sebagai upaya pengembangan ilmunya.

E.     Penjelasan Variabel
1.         Hakikat Belajar
Dari keseluruhan proses pembelajaran disekolah kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar dialami peserta didik. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Winkel (1999:36) menjelaskan:
"bahwa belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, kelakukan dan nilai sikap”.
Hal ini berarti merupakan suatu proses yang dijalani siswa dan membawa perubahan dimana perubahan itu pada dasamya ditemukannya suatu kecakapan baru yang terjadi karena suatu usaha. Selanjutnya Witting (dalam Syah, 2003 : 66) mendefenisikan:
"Belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman".

Dengan demikian belajar selalu berhubungan dengan perubahan tingkah laku yang relatif  menetap. Perubahan itu di peroleh melalui hasil interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar. Setiap hasil interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar. Setiap perubahan tingkah laku yang diperolehnya merupakan hasil pengalamannya.
Belajar sejarah adalah suatu proses psikologi berupa kegiatan aktif dalam upaya seseorang untuk memahami atau menguasai materi sejarah. Belajar sejarah  juga merupakan suatu proses aktif yang di sengaja untuk memperoleh pengetahuan baru sehingga tidak terjadi perubahan dalam diri seseorang.
2.         Hasil Belajar
Banyak pendapat para ahli sesuai dengan keahlian mereka masing-masing untuk memberikan pengertian mengenai kata prestasi namun secara umum mereka sepakat bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan. Dalam kenyataannya, untuk mendapatkan prestasi tidak semudah yang dibayangkan tetapi penuh dengan perjuangan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk mencapainya. Hanya dengan keuletan dan optimis diri yang dapat membantu mencapainya.
Hal ini sejalan dengan Djamarah (1999 : 21) mengatakan bahwa:
"Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan yang menyenangkan hati yang di peroleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individu maupun secara kelompok."
Sedangkan belajar adalah suatu kegiatan yang sadar akan tujuan dalam pembelajaran adalah perubahan tingkah laku dalam diri individu. Dengan demikian Djamarah (1994 : 23) menyimpulkan:
"Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dalam diri individu sebagai hasil aktivitas belajar".

Hasil belajar merupakan dasar atau landasan yang digunakan untuk meningkatkan keberhasilan peserta didik dalam memahami materi pelajaran. Hasil belajar peserta didik dapat diketahui melalui tes. Hasil tes kemudian diolah, dan dianalisis oleh guru. Tujuan penilaian hasil belajar menurut Arikunto (1989:10) adalah:
“Untuk mengetahui apakah materi yang diberikan dapat dipahami peserta didik dan apakah metoda yang digunakan sudah tepat atau belum”.

           Hasil belajar yang dicapai mempunyai efek positif terhadap peningkatan minat peserta didik belajar selanjutnya. Peserta didik mempunyai sikap percaya diri dalam mengikuti pelajaran. Hasil belajar digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran. Setelah diberikan Pembelajaran Kooperatif model Group Investigatian (GI) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

F.     Kerangka Teoritis
1.         Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky (1978, 1986) yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif. Selain itu, metode ini juga didukung oleh teori belajar information processing dan cognitive theory of learning. Dalam pelaksanaannya metode ini membantu siswa untuk lebih mudah memproses informasi yang diperoleh, karena proses encoding akan didukung dengan interaksi yang terjadi dalam Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran dengan metode Pembelajaran Kooperatif dilandasakan pada teori Cognitive karena menurut teori ini interaksi bisa mendukung pembelajaran.
Menurut Slavin  pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Jadi Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu:
a.       Meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama.
b.      Pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial.
c.       Pembelajaran kooperatif ialah  untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Menurut Ibrahim, dkk. pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk siswa yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan. Cooper mengungkapkan keuntungan dari metode pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran.

2.         Strategi Pembelajaran Group Investigatian
Banyak fitur pendekatan Group Investigation (GI) yang aslinya dirancang oleh Herbert Thelen. Yang lebih mutakhir, pendekatan ini diperluas dan disempurnakan oleh Sharan dan rekan-rekan sejawatnya di Tel Aviv University. GI barangkali merupakan pendekatan Cooperative Learning yang paling kompleks dan paling sulit diimplementasikan. Kontras dengan STAD dan Jigsaw, pendekatan GI melibatkan siswa dalam merencanakan topik-topik yang akan dipelajari dan bagaimana cara menjalankan investigasinya. Hal ini membutuhkan norma dan struktur kelas yang lebih canggih dibandingkan pendekatan-pendekatan yang lebih theacer-centered (berpusat pada guru).
Guru yang menggunakan pendekatan GI biasanya membagi kelasnya menjadi kelompok-kelompok heterogen yang masing-masing beranggota 4 atau 5 orang. Akan tetapi, di beberapa kasus, kelompok mungkin dibentuk di seputar pertemanan atau di seputar minat terhadap topik tertentu. Siswa memilih topik-topik untuk dipelajari, melakukan investigasi mendalam terhadap sub-sub topik yang dipilih, dan kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporan kepada seluruh kelas.
Sharan (1984) dan rekan-rekan sejawatnya mendeskripsikan enam langkah pendekatan GI :
a.       Pemilihan Topik. Siswa memilih sub-sub topik tertentu dalam bidang permasalahan umum tertentu, yang biasanya diterangkan oleh guru. Siswa kemudian diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil berorientasi tugas yang beranggotakan dua sampai lima orang. Komposisi kelompoknya heterogen baik secara akademis maupun etnis.
b.      Cooperative Learning. Siswa dan guru merencanakan prosedur, tugas, dan tujuan belajar tertentu yang sesuai dengan sub-sub topik yang dipilih dalam langkah a.
c.       Implementasi. Siswa melaksanakan rencana yang diformulasikan dalam langkah b. Pembelajaran mestinya melibatkan beragam kegiatan dan keterampilan dan seharusnya mengarahkan siswa ke berbagai sumber di dalam maupun di luar sekolah. Guru mengikuti dari dekat perkembangan masing-masing kelompok dan menawarkan bantuan bila dibutuhkan
d.      Analsis dan sintesis. Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh selama c. langkah  dan merencanakan bagaimana informasi itu dapat dirangkum dengan menarik untuk dipertontonkan atau dipresentasikan kepada teman-teman sekelas.
e.       Presentasi produk akhir. Beberapa atau semua kelompok di kelas memberikan presentasi menarik tentang topik-topik yang dipelahari untuk membuat satu sama lain saling terlibat dalam pekerjaan temannya dan mencapai perspektif yang lebih luas tentang sebuah topik. Presentasi kelompok dikoordinasikan oleh guru.
f.       Evaluasi. Dalam kasus-kasus yang kelompoknya menindaklanjuti aspek-aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi kontribusi masing-masing kelompok ke hasil pekerjaan kelas secara keseluruhan. Evaluasi dapat memasukkan asesmen individual atau kelompok, atau kedua-duanya.

G.    Landasan Teori
Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Pada penelitian kali ini penulis menggunakan teori belajar behavioristik yang menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

H.    Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang didalamnya memberikan kesempatan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah sejarah dengan mengkombinasikan pengalaman dan kemampuan antar personal (kelompok) sehingga diperoleh suatu kesepakatan yang merupakan penyelesaian dari permasalahan tersebut.
Melalui model pembelajaran Group Investigation diharapkan mampu meningkatkan kemampuan procedural fluency siswa sehingga siswa merasa nyaman dan senang saat mengikuti pembelajaran sejarah, dapat lebih mudah memahami konsep-konsepnya dan hasil belajar peserta didik juga akan lebih baik. Untuk lebih jelas dapat dilihat kerangka konseptual, sebagai berikut:













I.       Hipotesis Penelitian
Dari uraian diatas maka hipotesisnya adalah:
H1     : Terdapat pengaruh yang berarti penggunaan Strategi Pembelajaran Group Investigatian (GI) terhadap hasil belajar sejarah.
H0     : Tidak terdapat pengaruh yang berarti penggunaan Strategi Pembelajaran Group Investigatian (GI) terhadap hasil belajar sejarah.

J.      Jenis Penelitian
            Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamati dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi-informasi data dan di dalam menganalisanya tidak menggunakan analisa data statistik.
            Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang mana data diperoleh dari eksperimen. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh Pengaruh Pembelajaran Kooperatif model Group Investigatian (GI) dalam Upaya meningkatkan  Hasil Belajar Sejarah. Dalam eksperimen ini dilaksanakan kegiatan pembelajaran dikelas ekperimen dan kelas kontrol.

K.    Desain Penelitian
Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Dalam penelitian eksperimen murni, desain penelitian yang populer digunakan adalah sebagai berikut:
1.              Control Group Post test only design atau post tes kelompok kontrol
Desain ini subjek ditempatkan secara random kedalam kelompok-kelompok dan diekspose sebagai variabel independen diberi post test. Nilai-nilai post test kemudian dibandingkan untuk menentukan keefektifan tretment.
Desain ini cocok untuk digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau pre tes mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen demikian akan berpengaruh pada perlakuan.
2.              Pre test post test control group design atau pre tes post tes kelompok kontrol
Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok kontrol). Dari desain ini efek dari suatu perlakuan terhadap variabel dependen akan di uji dengan cara membandingkan keadaan variabel dependen pada kelompok eksperimen setelah dikenai perlakuan dengan kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
3.       Solomon four group design
Desain ini menuntut penempatan subjek secara random kedalam empat kelompok. Pada kelompok 1 dan 2 diberi pre tes dan post test dan hanya kelompok 1 dan 3 yang dikenai perlakuan eksperimen.
Dalam penelitian ini digunakan desain Pre Tes Post Test Control Group. Desain penelitian eksperimen  yang digunakan adalah sebagai berikut:
Kelompok
Pre-test
Perlakuan
Poast-test
KE
K – 1
Group Investigatian (GI)
K –2
KK
K – 1
-
K - 2
Keterangan :
KE       : Kelompok Eksperimen
KK      : Kelompok Kontrol
K-1      : Pre Test
K-2      : Post Test

L.     Populasi dan Penelitian
a.       Populasi Penelitian
          Populasi penelitian menurut Suharsimi (1998:115) adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sampel-sampel yang akan diambil dalam suatu penelitian.
          Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang terdaftar pada semester genap (2) tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas VII1, VII2, dan kelas VII3.
Tabel 2 : Daftar nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran sejarah tahun pelajaran 2010/2011.
No.
Kelas
Jumlah Siswa
1.
VII1
22
2.
VII2
24
3.
VII3
23

Jumlah
69

b.      Sampel Penelitian
Sampel penelitian menurut Suharsimi (1998:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Adapun tekniknya dengan mengundi gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas, sehingga didapatkan satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, didapat kelas VII1  sebagai kelas eksperimen, dan kelas VII2 sebagai kelas kontrol.

M.   Prosedur Penelitian
            Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis, secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga tahap yaitu:
a.       Tahap Persiapan
a.       Menentukan tempat penelitian
b.      Menentukan populasi dan sampel
c.       Memilih dua kelas secara undian
d.      Menetapkan kelas eksperimen dan kelas kontrol
b.      Tahap Pelaksanaan
a.       Persiapan pembelajaran
1)      Membuat Rancangan Pembelajaran (RP)
2)      Membuat kisi-kisi soal
3)      Membuat soal uji coba
4)      Melakukan tes dengan menggunakan soal uji coba
5)      Menganalisis hasil uji coba
6)      Menyiapkan soal tes akhir yang diambil dari soal uji coba
b.      Perlakuan yang diberikan
               Perlakuan yang diberikan pada kedua kelas sampel seperti yang terdapat pada tabel 3 berikut:
Tabel 3. Perlakuan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
Kelas kontrol
Kelas eksperimen
a.      Pendahuluan
2.      Perumusan tujuan pembelajaran
3.      Apersepsi
4.      Motivasi
a.       Pendahuluan
1.      Perumusan tujuan pembelajaran
2.      Apersepsi
3.      Motivasi
b.      Kegiatan inti
1.      Guru menjelaskan materi yang sedang dipelajari
2.      Selain menjelaskan guru juga menyelinginya dengan tanya jawab  
b..   Kegiatan inti
1.      Guru membimbing siswa untuk membuat kelompok, memberikan LKS dan memberikan pertanyaan-pertanyaan bebas yang berhubungan dengan pembelajaran.
2.      Guru membimbing siswa melalui kelompok dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sejalan dengan LKS yang dimiliki siswa.
3.      Siswa disuruh menjawab pertanyaan melalui LKS
4.      Siswa disuruh untuk berbagi didepan kelas, menjelaskan dan menjawab tentang mereka bicarakan melalui LKS   
c.       Penutup
1.      Membuat kesimpulan
2.      Tugas rumah
c.       Penutup
1.      Membuat kesimpulan
2.      Tugas rumah

3.      Tahap Penyelesaian
a.       Mengelola data yang didapatkan dari tes yang diberikan kepada kedua kelas baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
b.      Menarik kesimpulan dari hasil yang didapatkan sesuai dengan teknis analisa data yang digunakan.

d.      Instumen Penelitian
              Instumen penelitian yang digunakan adalah tes. Tes yang digunakan untuk mengukur penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan. Bentuk tes yang digunakan adalah tes objektif dengan 4 option. Sebelum soal tes digunakan dalam penelitian, perlu dilakukan uji coba untuk memperoleh Validitas, Realibilitas, Daya beda, dan Tingkat kesukaran. Uji coba soal-soal tes dilakukan pada kelas VII SMP Negeri 1 Padang tahun ajaran 2010/2011.
a.       Validitas Soal
Suatu tes dapat dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Menurut Suharsimi (1998:160) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi sedangkan instrumen yang kurang valid berarti memilili validitas rendah. Dalam penelitian ini untuk mengetahui validitas instrumen dengan menggunakanrumus korelasi Product Moment Pearson sebagai berikut:

dengan pengertian
x          : X- X
y          : Y – Y
X         : skor rata-rata dari X

b.      Realibilitas Tes
Suharsimi (1998:170-171) menerangkan reliabilitas adalah instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen itu sudah baik. Instrumen yang reliable berarti instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bias dipercaya. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas instrumen digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut:
dengan keterangan:
r11           : reliabilitas  instrumen
r1/21/2    :  rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen

e.       Analisis Data
 Analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan analisis statistuk parametik yaitu suatu metode yang dibutuhkan asumsi tentang distribusi populasi.






Daftar pustaka
Black A James & Dean J. Champion, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, 1999, PT Refika Aditama, Bandung

Furchan Arief, Pengantar Penelitian Pendidikan,1982, Usaha Nasional, Surabaya
Rakhmat, Jalaluddin, Statistik Untuk Penelitian, 1989,  Tarsitu, Bandung