Selasa, 23 April 2013

PTK


Upaya meningkatkan kemampuan berpikir Siswa melalui  pembelajaran partisifatif di Kelas XI dalam Pembelajaran Mata Pelajaran Sejarah

A.    Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang giat-giatnya membangun. Untuk keperluan pembangunan ini, maka disamping diperlukan sumber daya modal, diperlukan juga sumber daya manusia yang berkualitas untuk keperluan pembangunan. Upaya untuk menciptakan dan meningkatkan sumber daya tersebut adalah melalui pendidikan. Diharapkan melalui pendidikan dapat tercipta individu-individu anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk bisa mengikuti perkembangan IPTEK yang bisa mendukung kebutuhan pembangunan.
Dalam perkembangan kehidupan pada masa abad ke-21 ini terdapat kecendrungan dimana kemenangan dalam persaingan hanya dapat diraih oleh orang-orang yang berkualitas lebih. Untuk itu sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan harus mampu untuk meningkatkan kemampuan peserta didiknya, sehingga ia dapat mengikuti perkembangan zaman.
Para ahli seperti John Dewey, berpendapat bahwa upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam proses belajar untuk  memecahkan permasalahan yang ada disekitarnya diperlukan kemampuan berpikir kritis.   (ideal)
R.Matindas (1996:71) menyatakan bahwa: "Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan". Selain itu Berfikir Kritis (critical thinking) adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi tersebut bisa didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi.  Dari dua defeniasi diatas dapat diamabil kesimpulan bahwa berfikir kritis adalah aktivitas mental yang bermuara pada pengambilan keputusan. Kemampuan berfikir ini mutlak diperlukan dalam upaya meningkatkan kreatifitas manusia sehingga ia mampu untuk melihat secara kritis fenomena-fenomena yang sedang terjadi di lingkungannya.
Pendidikan sejarah  sebagai salah satu dari pendidikan secara umumnya memiliki peran penting dalam upaya mengembangkan mutu pendidikan, khususnya didalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia-manusia yang mampu untuk berpikir kritis, kreatif, logis dan memiliki inisiatif untuk menanggapi segala bentuk fenomena yang sedang terjadi. Sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran sejarah disekolah menengah atas seperti yang tertera pada permendiknas no 23 tahun 2006 tentang standar isi. Namun upaya untuk mencapai tujuan pendidikan melalui pengajaran sejarah diatas menjadi sulit, hal ini disebabkan karena rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa.
Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilihat dari kurangnya kemampuan siswa dalam menganalisis  sekitar 65 % hal ini dapat dilihat dari kurangnya kemampuan siswa dalam menganalisis peristiwa dalam hubungan sebab akibat.  Dari 44 siswa dalam satu di kelas hanya 20 % siswa yang mampu untuk mengevaluasi informasi ketika siswa diperitahkan untuk membaca buku teks . (kenyataan)
Kondisi di atas disebabkan oleh beberapa diantaranya yakni:  rendah minat membaca siswa dan kurangnya motivasi dalam belajar. selanjutnya AA Navis menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi  kemampuan berpikir kritis  ialah: kurikulum pendidikan dan metode pembelajaran yang masih tradisional. (sebab umum)
 Dalam pembelajaran sejarah sehari-hari disekolah guru lebih banyak memakai metode ceramah.  metode ceramah yang seringkali digunakan oleh guru dalam memaparkan materi pembelajaran hanya bersifat satu arah dimana hanya pihak guru yang aktif, sedangkan siswa hanya sebagai pendengar saja. Pembelajaran seperti ini lebih banyak menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman sedangkan aspek aplikasi, analisis, evaluasi, dan sintesis yang merupakan ciri dari kemampuan kritis hanya mendapat penekanan yang kecil dari pembelajaran yang dilakukan. Keadaan ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan atau mengaplikasikan konsep-konsep yang dipelajarinya yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Siswa kurang dilatih untuk menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi suatu informasi, data, atau argumen sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang dapat berkembang dengan baik.
Salah satu metode yang dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa adalah metode pembelajaran yang kini dikenal dengan metode pembelajaran partisifatif. Metode pembelajaran pertisifatif pada intinya dapat diartikan sebagai pelibatan semua peserta didik dalam satu kegiatan pembelajaran. Karena melalui metode ini peserta didik dapat berlaku  aktif ketika proses pembelajaran sedang berlangsung. Metode ini  Bukan hanya pasif, dalam artian mendengar, mengikuti, mentaati, dan mencontoh guru. Tanpa mengetahui apakah yang diikutinya baik atau buruk. Dalam pendidikan partisipatif seorang pendidik lebih berperan sebagai tenaga fasilitator, sedangkan keaktifan lebih dibebankan kepada peserta didik. (solusi)
Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan mengambil judul “Upaya meningkatkan kemampuan berpikir Siswa melalui  pembelajaran partisifatif di Kelas XI dalam Pembelajaran Mata Pelajaran Sejarah”.

B.     Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Penelitian dibatasi pada menganalisis pada gerak perubahan peristiwa sejarah.
2.      Mengevaluasi informasi yang terdapat pada materi  buku teks yang digunakan oleh siswa.

C.    Rumusan  Masalah
 Untuk memperjelas pokok persoalan yang akan dibahas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Sejauh mana metode partisifatip mampu untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa?

D.    Tujuan Penelitian
Selaras dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

E.     Mamfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada semua pihak yang terlibat dan memiliki kepentingan dengan masalah yang diteliti, khususnya:
1.       Bagi siswa:
a)      Menarik minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran karena penyajian materi disertai contoh yang bersifat aplikatif, mudah diingat dan dijumpai nyata dalam kehidupan sehari-hari.
b)      Mengembangkan kekritisan  siswa dalam menjawab tantangan dari setiap perkembangan dalam kehidupan di Masyarakat.
c)      Mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam menuangkan ide atau gagasan dalam memecahkan permasalahan ketika pembelajaran sedang berlangsung.
d)     Mampu menerapkan cara berpikir kritis  dalam mengambil keputusan untuk memecahkan suatu masalah terkait dengan fenomena sejarah yang telah dipelajari yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Bagi Guru:
a)      Sebagai masukan bagi guru untuk meningkatkan kekreatifannya dalam memilih pendekatan pembelajaran.
b)      Meningkatkan kekritisan guru dalam memilih masalah-masalah ril yang dijumpai/berkembang di lingkungan dan kehidupan masyarakat sehari-hari terkait dengan materi yang akan diajarkan.

F.     Kajian Teori
   1.  Berpikir Kritis
Istilah berpikir kritis (critical thinking) sering disamakan artinya dengan berpikir konvergen, berpikir logis (logical thinking) dan reasoning.  Berpikir kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitan dengan penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengaktegorikan, seleksi dan memutuskan  (file:///E:/Berpikir Kritis « AGUSTINUS OK.htm). 
 Selain itu berfikir kritis juga dapat diartikan sebagai suatu proses simbolis dalam memecahkan masalah melalui penilaian dan pertimbangan yang krusial. Proses berpikir kritis dilakukan melalui pengujian fakta, peristiwa, atau pikiran. Arti fakta, peristiwa, atau pikiran dilakukan dengan pertimbangan melalui berbagai alternatif pemecahan masalah dan kesimpulan yang dapat ditarik dan selanjutnya memperoleh pendapat yang didasarkan pada analisis obyektif. (Komarudin&Tjuparmah, 2000: 29).
Dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir ktisis pada diri seseorang, R.Matindas (1996:71) merumuskan konsep berpikir kritis sebagai aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah aktivitas mental dalam upaya untuk memecahkan permasalahan melalui evaluasi terhadap kebenaran dari sebauh pernyataan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis memiliki beberapa ciri-ciri antara lain:
a)      Kemampuan untuk Mengevaluasi kebenaran dari sebuah pernyataan.
b)      Kemampuan Memperhatikan, mengkatagorikan, menyeleksi dan menilai atau memutuskan.
c)      Kemampuan untuk memetakan informasi, mengidentifikasikan kesamaan dan ketidaksamaan.

Selain itu ciri-ciri siswa yang berpikir kritis menurut Muhhdin Syah (2005:119) antara lain sebagai berikut:
a)      Siswa tersebut akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa.
b)      Siswa menggunakan logika untuk menentukan sebab akibat, menganalisis, menarik kesimpulan dan bahkan menciftakan hukum-hukum (kaidah).
c)      Siswa menggunkan starategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji kehandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan.
Adapun tujuan dari berpikir kritis adalah agar dapat menjauhkan seseorang dari keputusan yang keliru dan tergesa-gesa sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan.
AA Navis (1999:368) menjelaskan bahwa strategi pendidikan nasional Indonesia tidak dapat meningkatkan  kreativitas anak bangsa dan kemampuan berfikir kritis mereka. Keadaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: Program, materi dan metoda yang digunakan serta kurikulum yang telah dirobah-robah.  
Selanjutnya terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas  berpikir kritis seseorang antara lain sebagai berikut:

a)      Membaca dengan kritis.
Untuk berpikir secara kritis seseorang harus membaca dengan kritis pula. Dengan membaca secara kritis, diterapkan keterampilan-keterampilan berpikir kritis seperti mengamati, menghubungkan teks dengan konteksnya, mengevaluasi teks dari segi logika dan kredibilitasnya, merefleksikan kandungan teks dengan pendapat sendiri, membandingkan teks satu dengan teks lain yang sejenis.
b)      Meningkatkan daya analisis
Dalam suatu diskusi dicari cara penyelesaian yang baik, untuk suatu permasalahan,    kemudian mendiskusikan akibat terburuk yang mungkin terjadi.
c)      Mengembangkan kemampuan observasi atau mengamati
Dengan mengamati akan didapat penyelesaian masalah yang misalnya menghendaki untuk menyebutkan kelebihan dan kekurangan, pro dan kontra akan suatu benda, kejadian atau hal-hal yang diamati. Dengan demikian memudahkan seseorang untuk menggali kemampuan kritisnya.
d)     Meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan bertanya dan refleksi
Pengajuan pertanyaan yang bermutu, yaitu pertanyaan yang tidak mempunyai jawaban benar atau salah atau tidak hanya satu jawaban benar, akan menuntut siswa untuk mencari jawaban sehingga mereka banyak berpikir.

2.      Metode Partisifatif
Dalam (file:///E:/Strategi Pembelajaran _ AKHMAD SUDRAJAT   ALL ABOUT EDUCATION.htm) dikatakan bahwa pembelajaran partisitip (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Lebih lanjut pembelajaran partisifatip ini memiliki beberapa ciri-ciri antara lain:
a)      Sumber belajar menenpatkann diri pada posisi yang tidak serba mengetahui terhadap semua bahan belajar. Memandang warga belajar sebagai sumber yang mempunyai nilai dan manfaat dalam kegiatan belajar.
b)      Sumber belajar memainkan peranan membantu warga belajar dalam melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar ini didasarkan atas kebutuhan belajar warga belajar.
c)      Sumber belajar memotovasi warga belajar agar berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan dalam mengevaluasi program pembelajaran yang dijalaninya.
d)     Sumber belajar bersama warga belajar melakukan kegiatan saling membelajarkan dalam bentuk bertukar fikiran mengenai isi,proses, dan hasil belajar serta pengembangannya.
e)      Sumber belajar berperan membantu warga belajar dalam menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, sehingga warga belajar dapat melibatkan diri secara aktif dan bertanggungjawab dalam proses kegiatan pembelajaran.
f)       Sumber belajar mengembangkan kegiatan belajar kelompok.
g)      Sumber belajar mendorong warga be;lajar untuk meningkatkan semangat berprestasi, semangat berkompetisi menghadapi tantangan yang berorientasi pada perbaikan kehidupan yang lebih baik.
h)      Sumber belajar mendorong dan membantu warga belajar untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah di dalam dan terhadap kehidupan yang dihadapinya sehari-hari.
i)        Sumber belajar dan warga belajar secara bersama-sama mengembangkan kemampuan antisipasi dan partisipasi.
j)        Pembelajaran mencapai otonomi dan integrasi dalam kegiatan individual dan kehidupan sosialnya.
John Dewey dalam bukunya “pengalaman dan pendidikan” menjelaskan bahwa, Pendidikan partisipatif ini dapat diterapkan dengan cara mengaktifkan peserta didik pada proses pembelajaran yang berlangsung. Siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional, keterampilan, kreatifitas. Dengan cara melibatkan siswa secara langsung ke dalam proses belajar. Sehingga nantinya peserta didik dapat secara mandiri mencari pemecahan masalah dari masalah yang ia hadapi.
Muhammad Ali (1996:21) memaparkan beberapa langkah yang dapat dilakukan  dalam pembelajaran partisipatif, antara lain sebagai berikut:
a)      Menyadari adanya masalah
b)      Merumuskan masalah
c)      Membuat hipotesis
d)     Mengumpulkan data
e)      Menguji hipotesis dengan data
f)       Menarik kesimpulan dan follow up dari kesimpulan yang diperoleh.

3.      Teori yang digunakan
Menurut Sudjana, kegiatan belajar partisipasif didukung oleh beberapa teori pembelajaran, di antaranya adalah teori connectionism Thorndike, teori aliran tingkah laku yang dikembangkan oleh Guthrie, Skinner, Crowder dan Hull, teori Gestalt dan teori medan. Teori yang relevan dibahas dalam hubungannya dengan kebutuhan pengkajian ini adalah teori Asosiasi dan teori Gestal. Teori asosiasi berpandangan bahwa mutu kegiatan belajar akan efektif apabila interaksi antara sumber belajar dan warga belajar dilakukan melalui stimulus dan respon (S-R). Oleh karena itu makin giat dan makin tinggi kemampuan warga belajar dalam mengembangkan stimulus dan respon, maka makin efektif kegiatan belajarnya.  Teori asosiasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh Edward Lee Thorndike. Hasil penelitiannya lebih menekankan pentingnya faktor kesiapan (readiness), latihan (exercise) dan pada hasil yang menyenangkan (good effect) dalam belajar.
Selain itu teori Gestalt yang dikembangkan oleh Wolfgang dan Kurt Koffka menekankan pentingnya proses mental. Para psikolog gestalt memiliki memandang bahwa belajar terjadi bila diperoleh insight (pengalaman).  Insight timbul secara tiba-tiba, bila individu telah dapat melihat hubungan antara unsur-unsur dalam situasi problematik. Teori gestalt dalam proses pembelajaran lebih menekankan kesempatan kepada siswa untuk melakukan sesuatu.  Dengan melakukan  sesuatu dapat diperoleh pengertian.

G.    Kerangka Berfikir
Pendidikan tradisional yang seringkali digunakan oleh guru dinilai ‘kurang baik’ dalam mengembangkan potensi anak. Pada pendidikan tradisional, pusat perhatian berada di luar anak, apakah itu guru, buku, teks dan lain-lain. Kondisi ini merupakan kegagalan untuk melihat anak sebagai makhluk hidup yang tumbuh dalam pengalaman dan dimana dalam kapasitasnya untuk mengontrol pengalaman dalam transaksinya dengan lingkungan. Hasilnya pokok persoalan terisolasi dari anak dan hubungan pribadi menjadi formal, simbolik, statis, mati. Sekolah menjadi tempat untuk mendengarkan untuk instruksi belaka.
Menurut John Dewey, Dalam proses pendidikan, pelaksanaannya harus partisipatif, di mana pendidikan yang dalam prosesnya menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam pendidikan. Pola pendidikan partisipatif menuntut para peserta didik agar dapat melakukan pendidikan secara aktif. Bukan hanya pasif, mendengar, mengikuti, mentaati, dan mencontoh guru. Tanpa mengetahui apakah yang diikutinya baik atau buruk. Dalam pendidikan partisipatif seorang pendidik lebih berperan sebagai tenaga fasilitator, sedangkan keaktivan lebih dibebankan kepada peserta didik.
Berdasarkan pendapat diatas, pembelajaran partisipatif merupakan proses pembelajaran yang dapat menimbulkan keaktifan dalam diri siswa, sehingga muncul interaksi dalam bertanya, menjawab, berdiskusi dan lian sebagainya. Interaksi ini pada akahirnya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka
Pembelajaran dengan model 
pembelajaran partisifatif

Siswa

Menemukan             Merumuskan dan               Membuat  dan menguji            Mengambil
masalah                mengidentifikasi Masalah                 Hipotesis                       kesimpulan

Berpikir Kritis




H.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir serta melihat kondisi siswa di sekolah target penelitian maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah metode partisipatif akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas.

I.       Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian ini saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan fakta-fakta dan mengembangkan kemampuan analisis untuk memecahkan masalah yang ada

J.      Subjek Penelitian
Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas XI-1 dan X-3 dimana  jumlah siswa dalam satu kelas terdiri dari 35 orang, Dengan karakteristik sebagai berikut:
1.      Kelas XI-1, jumlah siswa 35 orang terdiri dari 18 orang siswa laki-laki dan 17 orang siswa perempuan. Rata-rata hasil belajar adalah 70, dengan rata-rata skor kemampuan berpikir kritis 23,4
2.      Kelas XI-3, jumlah siswa 34 orang terdiri dari 19 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Rata-rata hasil belajar adalah 70, dengan Rata-rata skor kemampuan berpikir kritis  32,4.
            Pertimbangan penulis mengambil subyek penilitian tersebut terkait dengan masih rendahnya interaksi yang timbul dalam proses pembelajaran di kelas XI-1 dan X-3. Keadaan tersebut tentu berdampak pada rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dalam melihat perkembangan dalam setiap materi yang akan disajikan. 

K.    Waktu dan Lamanya Penelitian
Penelitian tindakan ini dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2009/2010. Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menggunakan waktu penelitian selama 4 bulan, yaitu  Agustus s.d November 2009.  Waktu yang digunakan untuk melakukan tindakan di mulai pada  September yang dimulai dengan Siklus I sampai dengan siklus II.

L.     Jenis dan Sumber Data
Beberapa data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa sumber yang terkait dalam proses belajar mengajar. Beberapa komponen yang terkait dalam penelitian ini meliputi: Siswa itu sendiri, Guru Mitra dan pelaksanaan tindakan. Adapun jenis data yang akan dihasilkan adalah hasil belajar berupa kemampuan berpikir kritis, hasil observasi, pelaksanaan tindakan, rencana tindakan, jurnal kejadian selama observasi kegiatan penelitian tindakan kelas.

M.   Desain Penelitian
Penelitian Tindakan ini dilaksanakan dengan menggunakan model rancangan dari Kemmis & Mc Taggart, yang dibuat melalui beberapa siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari komponen-komponen: Perencanaaan (planning), Tindakan (acting), Pengamatan (observing), Refleksi (reflecting). Gambaran bentuk desainnya adalah:
Gambar 1.
Penelitian Tindakan Menurut Kemmis & Mc Taggart (1998)
Rincian untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning)
Membuat rancangan pembelajaran untuk tiap siklus yang meliputi
a. Rencana pembelajaran materi kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha dengan pendekatan partisipatif
b. Bahan ajar berpendekatan partisipatif
c. Menyiapkan alat evaluasi
d. Menyiapkan artikel atau brosur atau data lain yang berkaitan dengan materi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha.
2. Tindakan (Acting)
Melaksanakan skenario pembelajaran berwawasan SETS yang telah direncanakan dalam tiap siklus untuk masing-masing kelas, yang meliputi:
a. Pendahuluan
Menyiapkan apersepsi berupa salah satu komponen SETS yang ada hubungannya dengan materi pelajaran.
b. Kegiatan inti
Menyiapkan materi pembelajaran (sesuai dengan kurikulum) disertai dengan mengaitkan materi tersebut dengan SETS dalam setiap kesempatan.
c. Penutup
Menyimpulkan materi yang telah diberikan disertai tugas kelompok kepada siswa untuk membuat salah satu diantara: kliping, poster, artikel berwawasan SETS yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan guru. 
3. Pengamatan (Observing)
a. Melaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan
b. Mengisi catatan kejadian selama pembelajaran berlangsung
c. Memeriksa hasil tes tiap siklus
4. Refleksi (Reflecting)
a. Mengumpulkan data yang didapat dari tahap observasi
b. Menilai, menganalisa data, mengambil kesimpulan untuk menemukan hambatan-hambatan atau kemajuan yang terjadi setelah tindakan berlangsung.
c. Mencari solusi alternatif untuk perbaikan siklus berikutnya.

N.    Instrument penelitian
Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode (Arikunto, 1998: 137). Alat pengumpulan data atau instrument dalam penelitian ini meliputi lembar observasi dan hasil belajar siswa. Lembar observasi yang dimaksud pada penelitian adalah lembar observasi tentang kemampuan berpikir kritis.


DAFTAR PUSTAKA

Basri, Irma Yulia. 2007. Peningkatan Keaktifan, Kreatifitas, dan Kompetensi Siswa melalui Penggunaan Alat Peraga pada Pelajaran Fisika. 15 Maret 2008. Dari  http://www.malang.ac.id/ jurnal/ fip/ilpen/ malang.htm.

Dirjen Pengembangan SMA. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran yang  Efektif. http://www.dikdasmen.org/files/KTSP/SMP/Pengembmodel%pembel%2046%20efektif-SMP.doc. Diakses 15 Juni 2010 pada 1.00 pm.

Kartini, Harti. 2003. Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa SD dalam Pembelajaran IPA melalui Penerapan Model Interaktif. Forum Penelitian Kependidikan tahun 15 no 2 Desember 2003. 15 Maret 2008. Dari http://www.malang.ac.id/ jurnal/ lain/ forum/ 2003 a.htm#2.4.

Kemmis, Stephen and Mc Taggart, Robin. 1998. the Action Research Planner. Victoria Deakin Unversity Press.
Prayitno, Elida. (1989). Motivasi dalam Belajar. Jakarta : Departemen P dan K.
Rahmadsyah. 2010. Pernik-Pernik Pembelajaran, KGI. Jakarta. http://www.kgi.com.

Sudjana, Nana. Rivai, Ahmad. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sukarno. (1981). Dasar-dasar Pendidikan Sain. Jakarta : Bharata.
Susilo, Joko. 2006. Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar. Yogjakarta: Penerbit PINUS.